Showing posts with label Bahasa Indonesia (Pembentukan Kata). Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia (Pembentukan Kata). Show all posts

Sunday, November 12, 2017

PROSES PEMBENTUKAN KATA DALAM BAHASA INDONESIA

Kreatif
___&___ Kerja Keras
Kreatif merupakan berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. Bagi generasi mudah, kreatif merupakan identitas yang harus yang dimiliki. Karena jika tidak, maka ketertinggalan adalah jawabannya. Pemudah harus mampu berpikir kreatif untuk mencari solusi atas diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya. Kerja keras merupakan perilaku yang menunjukkan upaya sunguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Jangan katakan dirimu sebagai generasi di era sekarang ini jika berpikir kreatif dan bekerja keras untuk meraih kesuksesan dunia akhirat belum dimiliki.

PEMBENTUKAN KATA
A. Beberapa Pengertian Pembentukan Kata
Karena kata dalam bahasa Indonesia dapat dibentuk dari kata lain, ada berbagai pengertian dan istilah yang diperlukan untuk menerangkan proses pembentukan itu. Berikut ini diuraikan beberapa konsep dan istilah yang akan membantu kita untuk memahaminya.
1.  Morfem, Alomorf, dan (Kata) Dasar
Dalam bahasa ada bentuk (seperti kata) yang dapat “dipotong-potong” menjadi bagian yang lebih kecil lagi sampai ke bentuk yang, jika dipotong lagi, tidak mempunyai makna. Kata memperbesar, misalnya, dapat kita potong sebagai berikut.
Mem-perbesar
per-besar

Jika besar dipotong lagi, maka be- dan -sar masing-masing tidak mempunyai makna. Bentuk seperti mem-, per-, dan besar disebut morfem. Morfem yang dapat berdiri sendiri, seperti besar, dinamakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada bentuk lain, seperti mem- dan per-, dinamakan morfem terikat. Dengan batasan itu, maka sebuah morfem dapat berupa kata (seperti besar di atas), tetapi sebuah kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih.
Contoh memperbesar di atas adalah satu kata yang terdiri atas tiga morfem, yakni dua morfem terikat mem- dan per- serta satu morfem bebas besar. Sebaliknya, bentuk besar itu sendiri adalah satu morfem yang kebetulan juga satu kata. Berikut ini beberapa contoh lain beserta keterangannya.
membawa                    morfem bebas  : bawa
                                  morfem terikat : mem
mempembuatan            morfem bebas : buat
                                  morfem terikat : pem-an
Pada contoh di atas kita temukan bentuk mem- dan men- yang masingmasing dilekatkan pada bawa dan dapat. Baik mem- maupun men- sebenarnya mempunyai fungsi dan makna yang sama, yakni merupakan pembentuk verba aktif. perbedaan dalam wujudnya itu ditentukan oleh fonem pertama yang mengawali kata bawa dan dapat: jika fonem pertama yang mengikutinya berupa fonem /b/maka bentuknya adalah men, anggota satu morfem yang wujudnya berbeda, tetapi yang mempunyai fungsi dan makna yang sama dinamakan alomorf. Morfem biasanya diapit oleh dua tanda kurung kurawal {…}. Dengan demikian,mem dan men adalah dua alomorf dari satu morfem yang sama, yakni {meng-}. Disamping mem dan men, masih ada alomorf meny {seperti pada kata menyingkir}, meng (seperti kata mengambil), me (seperti melamar), dan menge (seperti pada kata mengecat).
Bentuk seperti duduk, darat, dan temu dapat dipakai dasar untuk membentuk kata. Dari ketiga bentuk ini dapat diperoleh kata berikut ini.

Duduk
Darat
Temu
Duduki
Menduduki
Dudukkan
Mendudukkan
(Pendudukan)
Mendarat
Daratkan
Mendaratkan
(Pendaratan)
Bertemu
Pertemuan
Mempertemukan
(Pertemuan)

Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa kata menduduki dan mendudukkan diturunkan secara bertahap dari dasar duduk, mendarat dari dasar darat, bertemu dari dasar temu, dan mempertemukan dari dasar pertemukan. Selanjutnya, kata seperti pendudukan, pendaratan, dan pertemuan tidak dibentuk atau diturunkan dari dasar duduk, darat, dan temu, tetapi dari dasar menduduki, mendarat, dan bertemu. Dengan kata lain, kata yang diturunkan dari dasar tertentu dapat pula menjadi dasar pembentukan kata turunan yang lain. Jadi, urutan pembentukannya dapat dilihat pada bagan berikut.
Duduk ­­­_____ menduduki ______ pendudukan
Darat _____ mendarat _____ pendaratan
Temu _____  bertemu _____ pertemuan
2.  Analogi
Pembentukan kata pendaratan dan pertemuan dikaitkan dengan mendarat dan bertemu, kita dapat juga menyaksikan pembentukan kata baru berdasarkan contoh yang sudah ada. Kesamaan pola pembentukan berdasarkan contoh itu disebut analogi. didalam dunia olah raga kita mengenal paradigma  bergulat-pegulat dan bertinju-petinju. Kini muncul kata pegolf, pehoki dan pecatur yang masing-masing dibentuk berdasarkan pola pegulat dan petinju tanpa memperhitungkan ada tidaknya kata bergolf, pesuluh dan pesapa yang berdasarkan pola penyuruh-pesuruh yang sudah lama ada dalam bahasa kita.
3.  Proses Morfofonemik
Seperi dinyatakan diatas, sebuah morfem dapat bervariasi bentuknya. Kidah yang menentukan bentuk itu dapat diberikan sebagai proses yang berpijak pada bentuk yang dipilih sebagai lambing morfem. proses perubahan bentuk yang  isyaratkan oleh jenis fonem atau morfem yang digabungkan dinamakan proses morfofonemik. Jadi, seperti pada contoh diatas proses perubahan mengmenjadi mem-, men-, meny-, menge-, dan me- adalah proses morfofonemik.

4.  Afiks, Prefiks,Sufiks, infiks, dan Konfiks
Kata yang dibentuk dari kata lain pada umumnya mengalami tambahan bentuk pada kata dasarnya. Kata seperti bertiga, ancaman, gerigi dan berdatangan terdiri atas kata dasar tiga, ancam, gigi, dan datang yang masing-masing dilengkapi dengan bentuk yang berwujud ber, an, er, dan ber-an. Bentuk atau morfem terikat yang dipakai untuk menurunkan kata dinamakan afiks atau imbuhan. Keempat bentuk terikat diatas adalah afiks atau imbuhan.
Afiks yang ditempatkan dibagian muka suatu kata dasar disebut prefiks atau awalan. Bentuk atau morfem terikat seperti ber-, meng-, peng-, dan per- adalah prefiks atau awalan. Apabila morfem terikat ini digunakan dibagian belakang kata, maka namanya adalah sufiks atau akhiran. Morfem terikat seperti –an, -kan, dan –i adalah contoh sufik atau akhiran. Infiks atau sisipan adalah afiks yang diselipkan ditengah kata dasar. Bentuk seperti –er- dan –el- pada gerigi dan gelatar adalah afiks atau sisipan.
Gabungan prefix dan sufiks yang membentuk suatu kesatuan dinamakan konfiks. Kata berdatangan, misalnya, dibentuk kata dasar datang dan konfiks ber- -an yang secara serentak diimbuhkan. Kita harus waspada terhadap bentuk yang mirip dengan konfiks, tetapi yang bukan konfiks karena proses penggabungannya tidak secara serentak. Kata berhalangan, misalnya, pertamatama dibentuk dengan menambahkan sifiks –an pada dasar halang sehingga terbantuk kata halangan. Sesudah itu barulah prefix ber- diimbuhkan.
Jadi, ber--an pada berdatangan adalah konfiks karena afiks itu merupakan kesatuan-tidak ada bentuk datangan. sebaliknya, ber-an pada berhalangan bukan konfiks karena merupakan hasil proses penggabungan perfiks ber- dengan halangan.
B. Pembentukan Kata
Ada dua cara pembentukan kata, yaitu dari dalam dan dari luar bahasa Indonesia. Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kosa kata baru dengan dasar kata yang sudah ada, sedangkan dari luar terbentuk kata baru melalui unsur serapan. Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kata baru, misalnya:

Semangat Kolaborasi Riset Membangun IKN Berbudaya: Desa Telemow Bersiap Menjadi Laboratorium Hidup Kearifan Lokal

  Penajam Paser Utara, 16 September 2024 – Gemuruh semangat pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara di Kalimantan Timur bergema hingga ke pel...