Ass. Kepada mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 3 kelas F dan E, kemukakan pendapat mu mengenai pertanyaan berikut
1. Apakah yang menjadi alasan dasar mahasiswa tidak menyukai sastra atau tidak memiliki ketertarikan untuk membaca dan mengkaji karua sastra?
2. Solusi apa yang mahasiswa tawarkan demi meningkatkan minat dan motivasi mengapresiasi karya sastra?
3. Menurut kalian, kriteria karya sastra bermutu itu seperti apa?
(Jawab pertanyaan di atas pada kolom komentar di bawah. Setelah menjawab, mahasiswa diharpakan meng-klik gambar iklan yang ada pada bagian atas, bawah, dan samping tulisan pada blog ini. Atas kerja samanya saya mengucapkan terima kasih)
Warning!!!
Batas akhir tugas ini yaitu tanggal 12 November 2017, Pukul 00.000
Friday, November 10, 2017
TUGAS SEDERHANA MAHASISWA
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
Wednesday, November 8, 2017
NASKAH PIDATO (SPEECH SCRIPT)
NASKAH
PIDATO
MENYOAL
PERAN PRIBADI DALAM MEMARTABATKAN BAHASA INDONESIA
ASSALAMU ALAIKUM WR.WB
SALAM BAHASA BAGI YANG
BERBUDAYA
Sebagai
bangsa yang bersila ketuhanan yang maha esa, sewajarnya kita mengucap syukur
atas segala limpahan rahmat dan hidayah yang telah kita nikmati sekarang ini. Sejarah
telah memberikan sebuah amanah kepada kita, amanah yang harus dijaga dengan
penuh tanggung jawab oleh segenap manusia Indonesia yang menjajaki kakinya
dipermukaan bumi ini. Sebagaimana yang telah terekam dalam ingatan dan
tulisan-tulisan sejarah, 28 Oktober 1928 menjadi sebuah perhelatan akbar dari
para pemuda Indonesia yang melahirkan sebuah ikrar “menjunjung bahasa persatuan
bahasa Indonesia” (Sumpah Pemuda). Perjuangan demi perjuangan terlontar melalui
fisik dan berbagai instrument juang lainnya yang menuntut pengorbanan jiwa,
raga, dan materi. Mereka tidaklah menghendaki sebuah balas jasa, namun, semua
itu semata-mata demi mencapai wujud bangsa yang berdaulat. Setelah tercapai apa
yang kita kehendaki, hasil dari keringat sejarah tersebut melahirkan sebuah
tatanan stratum kelas atas dimata para bangsa-bangsa lainnya, keberadaannya
disegani, dihargai, dan memiliki martabat yang tinggi. Ya, bahasa Indonesia
menduduki kursi tahta yang kokoh dimata dunia internasional kala itu.
Hadirin
yang berbudaya
Mari kita semua
mengurai fakta social kebahasaan kita sendiri. Melihat pandang dan sisi
penilaian kita terhadap bahasa Indonesia, menilai sikap yang telah kita perbuat
terhadap bahasa Indonesia, dan sejauh mana kita menjaga dan mencintai, dan
melestarikan bahasa Indonesia. Apakah kita tidak terhipnotis akan globalisasi
dan modernisasi yang menghendaki bahasa internasional sebagai bahasa lingua
pranca, sehingga kita sendiri terkesan melupakan atau merasakan gengsi yang tinggi
ketika kita menggunakan bahasa asing?. Sederet pertanyaan tersebut tidak bisa
kita abaikan begitu saja, karena saat ini, kita menyoal tentang bagaimana peran
diri pribadi dalam merekonstruksi martabat bahasa Indonesia menjadi sebuah
bahasa yang bergengsi dan totalitas diatas panggung dunia internasional. Demikian
itu yang akan saya uraikan dalam pidato saya.
Hadirin yang berbudaya
Berbicara mengenai peran pribadi, ada sebuah slogan yang
patut kita pahami dan kita jadikan sebagai pedoman kita bersama
“PRIBADI YANG CERDAS
ADALAH PRIBADI YANG BERPIKIR DAN
BERSOLUSI”
Artinya, ukuran cerdas
tidaknya seorang pribadi bukan dari seberapa banyak teori yang bisa ia hafal,
bukan dari sebanyak apa prestasi yang ia torehkan, bukan dari seberapa besar
penghargaan orang lain terhadap dirinya, namun pribadi yang cerdas adalah
pribadi yang mau dan berusaha berpikir untuk mencari solusi dari sekelumit
permasalahan atas dirinya dan orang lain. Pertanyaannya, inginkah anda menjadi
sosok yang cerdas? Cerdas bagi sekelumit permasalahan dunia kebahasaan
khususnya bahasa Indonesia. Ada segudang masalah yang merongrong eksistensi
kebahasaan kita, baik internal maupun eksternal. Satu contoh, ada suatu ketika
di atas sebuah mobil angkutan umum, seorang mahasiswa ditanyai oleh seorang
bapak, pertanyaannya singkat, “apakah anda seorang mahasiswa? Lalu mahasiswa
menjawab “ya”. “Jurusan apa?” “kata mahasiswa “bahasa Indonesia” lalu si bapak
berkata “Aiii…. bahasa Indonesia?”. Dari cerita tersebut, dapatlah kita pahami
bagaimana seseorang tidak memiliki kepercayaan terhadap bahasa Indonesia, tidak
adanya rasa bangga dan cinta terhadap bahasa Indonesia, tidak memiliki sikap
positif terhadap bahasa Indonesia, serta terhipnotis akan keberadaan bahasa
asing yang dianggapnya mampu mendongkrak kredibilitas, gengsi pribadi dan
derajat sosialnya. Namun, hal yang semacam itu hanya membuat pribadi tersebut
terpuruk dalam sebuah penghianatan terhadap para pahlawan kita terdahulu.
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
Tuesday, November 7, 2017
PENELITIAN RELEVAN SOSIOLOGI SASTRA
Penelitian Akbar et al. (2013: 93-102) dengan
judul “Kajian Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan dalam Novel Tuan Guru karya
Salman Faris.” Penelitian ini dipublikasikan dalam Jurnal Wacana Bahasa dan
Sastra. Penelitian ini menggambarkan pandangan dunia pengarang mengenai
eksistensi Tuan Guru, latar belakang sosial budaya masyarakat, dan
nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel. Selain itu, penelitian ini
menunjukkan hasil bahwa sebagian besar masyarakat Lombok menganggap sosok Tuan
Guru sebagai orang yang dapat memberi jamuan masuk surga. Doa akan lebih cepat
terkabul jika dipanjatkan oleh Tuan Guru. Kemudian latar belakang sosial budaya
masyarakat mencakup adat dan kepercayaan, pekerjaan, pendidikan, agama, tempat
tinggal, bahasa, dan suku. Adapun nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam
novel adalah pendidikan sosial, moral, budaya, agama, politik, dan nilai
historis.Persamaan antara penelitian Akbar et al. dengan
penelitian ini adalah keduanya menggunakan sosilogi sastra sebagai pendekatan
untuk mengkaji kondisi social masyarakat yang terdapat dalam novel yang
dianalisis. Perbedaannya adalah segi objek penelitian. Akbar et al. menelaah
novel Tuan Guru karya Salman Faris, sedangkan peneitian ini menelaah
novel Menak Jinggo Sekar Kedaton karya langit Kresna Hariadi sebagai
objek penelitian. Selain itu, penelitian ini menganalisis nilai pendidikan karakter
yang terkandung dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton karya Langit Kresna
Hariadi, sedangkan penelitian Akbar et al. menganalisis nilai pendidikan
sosial, moral, budaya, agama, politik, dan nilai historis dalam novel Tuan
Guru karya Salman Faris. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan Akbar
dan kawan-kawan dapat dikatakan relevan dengan penelitian ini.
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
SOSIOLOGI SASTRA
Hakikat
Kajian Sosiologi Sastra
a.
Pengertian
Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra adalah hasil curahan
pikiran, perasaan manusia yang memiliki relasi dengan masyarakat dengan segala
proses sosialnya. Bertemali dengan uraianuraian sebelumnya, dapat ditarik
benang merah yang mengaitkan antara soiologi dan sastra. Endraswara (2011: 78)
mengungkap bahwa sastra merupkan sebuah refleksi lingkungan sosial budaya yang
merupakan satu tes dialektika antara pengarang dengan situasi sosial yang
membentuknya. Dalam pernyataan di atas Endaswara mencoba menyiratkan bahwa
sosiologi dan sastra sama-sama membahas mengenai situasi dan lingkungan sosial
masyarakat. Damono (dalam Kurniawan, 2012: 6) menjelaskan beberapa hal yang
menunjukkan relasi antara sosiologi dan sastra antara lain: (1) hubungan
masyarakat dengan sastra dimediasi oleh pengarangnya, (2) hubungan sosiologi
dengan sastra dimediasi oleh fakta sastra, (3) hubungan sosiologi dan sastra yang
dimediasi oleh pembaca, (4) hubungan sosiologi dan sastra dimediasi oleh kenyataan,
dan (5) relasi antara sosiologi dan sastra dimediasi oleh bahasa sebagai media
sastra. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan mengenai keterkaitan antara sosiologi
dan sastra. aspek-aspek yang mengaitkan antara sosilogi dan sastra melibatkan berbagai
unsur pembangun sastra, yaitu pengarang, sastra, pembaca, dunia yang diacu (kenyataan),
dan bahasa.
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
Sunday, November 5, 2017
KEARIFAN LOKAL BUGIS
MODUS
EKSPRESI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BUGIS
SUATU KAJIAN ELONG UGI DENGAN
PERSPEKTIF HERMENEUTIKA
Abdul Kadir
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP)
Cokroaminoto Pinrang
Hp:
081334000250 e-mail: akadir106@yahoo.co.id
Modus adalah tujuan atau fungsi tuturan
yang menjelaskan suatu realitas. Tuturan tidak tercipta dari sebuah imajinasi
belaka melainkan cerminan atau gambaran dari cara pandang, ideologi, sikap, dan
perilaku penuturnya. Modus tuturan sering tidak dijabarkan dalam wujudnya,
melainkan berupa bias makna dari pemakaian bahasa dalam tuturan itu sendiri.
Oleh karena itu, untuk menemukan modus dalam sebuah tuturan, seringkali mitra
tutur atau peneliti wacana baik lisan maupun tulisan harus menginterpretasi
tuturan tersebut melalui pendalaman dan pengkajian.
Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif yang menggunakan ancangan hermeneutik. Data penelitian ini berupa
teks elong ugi dari berbagai buku.
Pengumpulan data berupa kajian dokumen (buku). Dalam pengumpulan data, peneliti
bertindak sebagai instrument kunci dibantu kawan/rekan sejawat yang memahami
tentang elong ugi. Analisis dilakukan
sejak awal pengumpuan data, klasifikasi data terpilih, penyajian data,
penarikan simpulan. Pun analisis data dikerjakan secara hermeneutik dengan
model intraktif-dialektis. Maksudnya pengumpulan data dan analisis data
dilakukan secara serentak, bolak balik dengan mengikuti mode hermeneutika
Recouer, yakni pemahaman secara cermat melalui level semantik, refleksif, dan
eksistensial. Untuk memverifikasi semua temuan penelitian, dilakukan
triangulasi temuan kepada pakar bahasa Bugis, ahli sastra Bugis, dan budayawan
Bugis.
Hasil
penelitian ditemukan bahwa modus
tuturan yang mengekspresikan Kearifan Lokal (KL) masyarakat Bugis dalam Elong
Ugi (EU) meliputi: (1) membangun
identitas sosial mansyarakat Bugis, (b)
membangun komunitas sosial, dan (c) membangun konsep pendidikan sepanjat hayat.
Kata
kunci: modus, kearifan lokal, elong
ugi, hermenutika
A.
PENDAHULUAN
Bugis adalah
salah satu suku bangsa di Asia Tenggara
dengan populasi lebih dari empat juta orang, suku Bugis mendiami bagian Barat
Daya pulau Sulawesi. Mereka memiliki berbagai ciri khas yang sangat menarik, yang tidak dimiliki oleh
suku-suku lain di Indonesia. Misalnya, mereka mampu mendirikan kerajaan tanpa sebuah kota sebagai pusat aktivitas, serta menjadikan agama Islam sebagai bagian integral dan
esensial dari adat-istiadat dan budaya. Kendati demikian, berbagai kepercayaan
peninggalan pra-Islam tetap dilestarikan sampai akhir abad ke-20 dan sisa-sisa eksistensinya masih
tampak hingga sekarang. Salah satunya adalah tradisi para bissu, yaitu sekelompok pendeta-pendeta wadam, yang masih menjalankan
ritual perdukunan serta dianggap mampu berkomunikasi dengan dewa-dewa leluhur. Ciri khas lainnya tampak pada
karakter umum orang-orang Bugis, yaitu dikenal sebagai
masyarakat yang berkarakter keras, tapi sangat menjunjung kehormatan. Demi
mempertahankan kehormatan, masyarakat Bugis bersedia melakukan tindak
kekerasan. Namun demikian, di balik sifat keras itu, orang Bugis memiliki sikap ramah, sangat menghargai orang lain,
dan memiliki kesetiakawanan.
Kehidupan
masyarakat Bugis, interaksi sehari-hari umumnya berdasarkan sistem
patron-klien, sistem kelompok kesetiakawanan antara seorang pemimpin dengan
pengikutnya yang saling mengait dan bersifat menyeluruh. Orang Bugis tetap
memiliki rasa kepribadian yang kuat, prestise dan hasrat berkompetisi
untuk mencapai kedudukan sosial tinggi, baik melalui jabatan maupun kekayaan. Hal itu merupakan faktor pendorong utama yang menggerakkan
roda kehidupan sosial kemasyarakatan.
Di sisi lain,
orang Bugis memiliki tradisi kesusastraan, baik lisan maupun tulisan. Berbagai
karya sastra tulis yang berkembang seiring dengan tradisi lisan, hingga kini
masih tetap dibaca dan ditulis ulang. Perpaduan antara tradisi lisan dan sastra
tulis itu menghasilkan salah satu epos sastra terbesar di dunia, yakni La Galigo yang lebih panjang daripada
Mahabarata, berisi kronik sejarah, ikhtisar
perundang-undangan, almanak, risalah hal-hal praktis, kumpulan
kata-kata mutiara, teks ritual pra-Islam, karya-karya
Islami, dongeng dan cerita, serta berbagai
jenis sajak (Arsuka, 2006: 3-5; Mangemba, 2002).
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
Thursday, November 2, 2017
BOOK "EFFECTIVE TEACHING AND LEARNING" BY PAUL COOPER AND DONALD McLNTYRE
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
BOOK "COLLABORATIVE LEARNING AND WRITING" BY KATHLEEN M. HUNZER
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
BOOK DALE HA. SCHUNK "LEARNING THEORIES AN EDUCATIONAL PERSPECTIVE"
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
BOOK E. Wayne Ross "THE SOCIAL STUDIES CURRICULUM"
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
BOOK DONALD T. CAMPBELL "EXPERIMENTAL AND QUASY EXPERIMENTAL DESIGNS FOR RESEARCH
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
BOOK RICHARD ARENDS "LEARNING TO TEACH"
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
BOOK "ALEXIS LUDEWIG AND AMY SWAN" (101 GREAT CALSS ROOM GAMES)
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
BUKU JEAN PIAGET "BEHAVIOR AND EVOLUTION"
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
BUKU ALBERT BANDURA "SOCIAL LEARNING THEORY
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
BUKU ROBERT MARIBE BRANCH "INTRUCTIONAL DESIGN" (ADDIE MODELS)
Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara
Subscribe to:
Posts (Atom)
Semangat Kolaborasi Riset Membangun IKN Berbudaya: Desa Telemow Bersiap Menjadi Laboratorium Hidup Kearifan Lokal
Penajam Paser Utara, 16 September 2024 – Gemuruh semangat pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara di Kalimantan Timur bergema hingga ke pel...
-
PENGERTIAN STILISTIKA Stilistika ( stylistic ) menurut Ratna (2009: 1) adalah ilmu tentang gaya, sedangkan stil ( style ...
-
Secara etimologis, puisi berasal dari bahasa Yunani poeima yang memilki makna membuat, poeisis yang berarti pembuatan, atau poeitis yan...
-
Etnolinguistik mengkaji semantik meliputi kajian semantik leksikal, semantik gramatikal, dan semantik kultural (Andini 2017) . Menurut kon...

